Bagaimana Asia Tenggara merangkul era Web3?

Education 6 August 2022
Bagaimana Asia Tenggara merangkul era Web3?

Inovasi Fintech telah berkembang secara signifikan di Asia Tenggara, memungkinkan peningkatan adaptasi Web3 di wilayah ini. Dan akhir-akhir ini hype di belahan dunia saat ini bukan tentang berselancar di internet tetapi tentang membuat konten dan memonetisasinya.

Web3 adalah fase berikutnya dari internet, yang lebih terdesentralisasi melalui kecerdasan buatan (artificial intelligence), blockchain, kontrak pintar (smart contracts), metaverse, dan teknologi pembelajaran mesin (machine learning technology). Dengan desentralisasi menjadi topik saat ini dan Asia Tenggara menjadi negara yang tangguh, tidak mengherankan jika perkembangaan web3 semakin cepat di kawasan ini.

Dengan banyak yang tidak memiliki rekening bank dalam sistem keuangan konvensional dan banyak yang belum bergabung dengan inovasi keuangan modern, Asia Tenggara masih terbukti menjadi pasar yang besar untuk inovasi, dengan rata-rata 440 juta total populasi online.

Secara keseluruhan, kalangan anak muda paling aktif secara digital secara global. Selain itu, ekonomi internet Asia Tenggara akan mencapai puncaknya pada US$1 triliun pada tahun 2030 karena kawasan ini mengalamai penambahan 60 juta pengguna baru pada awal pandemi.

Asia Tenggara merangkul Web3

Pemerintah di kawasan dan global telah mengakui pertumbuhan ini dan mendukung digitalisasi ekonomi melalui dukungan moneter, pelayanan dan penyederhanaan proses tradisional.

Misalnya, ICA di Singapura telah mengumumkan penerbitan akta kelahiran digital sebagai bagian dari upaya berkelanjutan mereka untuk merampingkan dan mendigitalkan layanan bagi warga Singapura.

Peluang seperti ini akan terus tumbuh di kawasan ini karena Web3 dibangun dengan janji menawarkan utilitas, nilai, dan pemberdayaan kepada pengguna, dan kami telah melihat ini dilakukan di Asia Tenggara.

Ekonomi dan struktur baru telah diciptakan di Asia Tenggara melalui penyebaran Web3. Game play-to-earn, misalnya, telah booming di Filipina dan telah membantu banyak orang bertahan selama pandemi.

Play-to-earn adalah model bisnis yang bekerja pada teknologi blockchain, memungkinkan pemain untuk bermain dan mendapatkan cryptocurrency. Axie Infinity, salah satu game di Filipina, mengikuti konsep yang memungkinkan pemain mendapatkan token non-fungible (NFT), yang menjembatani kesenjangan inklusi keuangan di negara tersebut, terutama selama pandemi.

Demikian pula, cryptocurrency telah membuka pintu bagi inklusi keuangan di Indonesia, dengan 7 juta pengguna di dalam negeri dan 21 juta di seluruh wilayah. Kami telah melihat bagaimana cryptocurrency telah membantu mengatasi tantangan keuangan umum seperti ketidakmampuan untuk menjangkau area yang jauh, kurangnya akses ke layanan keuangan yang aman, dan tingginya biaya transaksi digital.

Pemerintah menganggap serius kripto dan bekerja untuk menemukan kebijakan dalam mengatur ini untuk masa depan Web3. Dipantau juga oleh Commodity Futures Trading Regulatory Agency (CFTC) di bawah Kementerian Perdagangan Indonesia, CFTC berencana menghadirkan crypto exchange untuk mendorong ekosistem yang lebih baik

Jerry Sambuaga, Wakil Menteri Perdagangan, menyatakan bahwa “Potensi aset kripto sebagai komoditas sangat besar mengingat nilai perdagangan yang besar. Akan ada perubahan perilaku investor dan pedagang dalam waktu dekat, terutama di kalangan anak muda yang mulai melihat kripto sebagai ruang baru yang menjanjikan.”.

Asia Tenggara juga merupakan rumah bagi pengadopsi NFT tertinggi secara global, dengan banyak artis Asia mendapatkan popularitas dan merangkul kebebasan untuk berkreasi melalui Web3. Dibandingkan dengan karya seni digital, seniman menemukan blockchain sebagai cara yang lebih nyaman untuk membuat, menjual, dan mendistribusikan NFT.

Tidak perlu perlakuan khusus untuk menyimpan karya seni mereka, dan penyimpanan digital membantu mengurangi masalah yang menyertai ruang penyimpanan fisik. Penggunaan teknologi blockchain juga telah membantu seniman mendapatkan kembali kepemilikan atas karya mereka.

Tantangan besar untuk Web3

Meskipun banyak kasus penggunaan yang dibahas di atas, ini masih awal untuk Web3 di wilayah tersebut. Para ahli sering menyebut hype sebagai alasan kesuksesan Web3 yang semakin meningkat. Kemajuan ini juga membutuhkan investasi dalam teknologi dan infrastruktur baru, sesuatu yang mungkin dihadapi oleh perusahaan-perusahaan di negara-negara kurang berkembang di kawasan ini.

Tanpa pendanaan, perusahaan tidak akan dapat membawa teknologi mereka ke tingkat berikutnya, mereka tidak akan dapat mengembangkan bisnis mereka, merekrut talenta yang tepat, dan memperluas ke pasar baru. Jika faktor-faktor ini tidak dipertimbangkan dengan sangat rinci, Web3 akan melihat pertumbuhan jangka pendek dan tetap ‘iseng-iseng’ seperti yang dikatakan para ahli.

Masa depan Web3

Untuk memastikan bahwa masa depan Web3 yang cerah tetap dalam jangka panjang, penting untuk memperkuat dan menginternalisasi mahasiswa, komunitas, dan penggemar dengan pengetahuan tentang Web3.

Sebagai generasi berikutnya untuk memelihara dan mengoptimalkan adopsi Web3, memprakarsai kemitraan publik-swasta antara universitas dan industri blockchain bagi kami adalah kuncinya.

Mencari pendanaan yang tepat dan bermitra dengan organisasi yang tepat juga penting dalam menyiapkan bisnis Anda untuk sukses.

Membangun jaringan dengan para ahli adalah hal harus dipatuhi untuk meningkatkan pengetahuan industri Anda dan membangun komunitas yang kuat. Mereka tidak hanya akan mengadvokasi produk dan layanan Anda, tetapi mereka juga akan memberi Anda pendekatan umpan balik 360 untuk berkembang dalam lingkup bisnis.

Meskipun masih awal untuk Web3, kami telah melihat kekuatan teknologinya, dan kami senang melihat perubahan yang akan terjadi di Asia Tenggara.

Back to Top