Play-to-Earn: Pemborosan Sumber Daya Manusia?

Research 27 July 2022
Play-to-Earn: Pemborosan Sumber Daya Manusia?

Sumber daya manusia yang dimaksud di sini bukan berarti mempekerjakan atau memecat orang, melainkan waktu yang terbuang sia-sia oleh banyak orang.

Ada yang berpendapat bahwa Play-to-Earn seharusnya tidak pernah menjadi terkenal. Namun, mulainya demam Play-to-Earn dikatalisasi oleh pertumbuhan Axie Infinity yang tak terbayangkan sebelumnya.

Pendapatan yang dihasilkan Sky Mavis sebagai pemain utama di belakang Axie Infinity sangat menakjubkan. Implikasinya adalah, orang akan mulai mengatakan “kita bisa melakukan yang lebih baik” karena permainan dan konsepnya sendiri sederhana dan menyisakan banyak ruang untuk dikembangkan.

Masalahnya, Axie Infinity dengan kesuksesannya adalah sebuah outlier

Pertumbuhan mereka didorong oleh laparnya investor ritel yang putus asa mencari kereta baru untuk naik menyusul penurunan DeFi di Q2 tahun lalu.

Akibatnya, harga token, dan potensi pendapatan dari game ini meroket saat semua orang mereka mengikuti dan memainkannya. Platform mereka beralih ke sistem di mana pengguna dapat memainkan video game dan mencari nafkah dengan memainkannya. Namun, hal tersebut hanya bertahan dalam waktu singkat sebelum emisi token yang tidak terkendali merusak ekonomi dalam game.

Sejak kesuksesan Axie Infinity, tujuan akhir para pendiri GameFi adalah mereproduksi cerita ini. Tujuan mereka adalah mengubah game mereka sendiri menjadi ekosistem di mana pengguna dapat mencari nafkah dengan bermain game seolah-olah itu adalah pekerjaan full time mereka. Semua berakhir pada hal yang sama: emisi token tak terkendali merusak harga dan perlahan pemain mulai meninggalkan game.

Untungnya, topik percakapan di GameFi perlahan menyusul, dan hari ini banyak pakar Token Economics mendiskusikan “bagaimana kita membuat ekonomi Play-to-Earn berkelanjutan?”

TIDAK ADA GAME PLAY-TO-EARN YANG BERKELANJUTAN

Ini seharusnya tidak menghalangi pengembang game untuk menciptakan ekonomi dalam game mereka sendiri. Faktanya, tidak ada ekosistem video game yang berkelanjutan.

Secara historis, orang akan menghabiskan uang untuk video game dengan imbalan nilai hiburan, yang berbanding lurus dengan seberapa menarik dan menghibur ekosistem game tersebut. Semua video game memiliki “shelf life” atau masa “simpan” sebelum pengguna beralih ke video game lain, mulai dari beberapa minggu untuk game seluler, hingga beberapa tahun untuk video game yang ikonik.

Beberapa veteran perlahan mulai memahami hal ini, itulah sebabnya menjadi lebih umum untuk mendengar “Video game harus menarik dan menyenangkan terlebih dahulu!”

Kata-kata tadi diikuti dengan “… Video game terintegrasi blockchain seharusnya Play-AND-Earn, bukan Play-to-Earn.”

Ceritanya berubah, dan secara realistis ini berarti bahwa industri ini akan kembali seperti semula. Tujuan mengintegrasikan blockchain ke dalam game diringkas dengan sangat sederhana oleh apa yang memunculkan minat Vitalik Buterin pada immutability di blockchain.

Mengembalikan kekuasaan ke tangan pemain yang benar-benar dapat memiliki aset dalam game mereka. Sehingga pengguna dapat secara terbuka bertransaksi, membeli, atau menjualnya di pasar terbuka.

Ekonomi Dalam Game adalah Fitur, Bukan Produk

Tidak ada tim yang berhasil mereproduksi kejayaan Axie Infinity. Fokusnya harus beralih dari mengubah Play-to-Earn/Play-and-Earn menjadi sarana untuk membuat pengguna tetap terpaku pada ekosistem dengan harapan menaikan pasar sehingga mereka dapat mencari nafkah mingguan dari token yang didapatkan.

Banyak orang di ruang cryptocurrency ingin mencari cara untuk mencari nafkah. Sebagai pembuat game, jika Anda menarik mereka ke Axie atau yang serupa, hype akan naik, namun tidak lama akan kembali turun. Orang-orang tertentu akan menghasilkan uang dan yang lain akan kalah.

Grafik Harga Token Historis untuk Smooth Love Potion (SLP), Mata Uang Dalam Game Axie Infinity.

Sampai hiburan setingkat Video Game kelas dunia belum diciptakan dan terintegrasi ke blockchain, Play-to Earn hanya akan menghabiskan banyak waktu dan upaya manusia, dengan sedikit nilai hiburan dan token yang pada akhirnya akan menurun setelah emisinya tidak terkontrol.

Back to Top